Sejarah Tanah Besemah
Daerah Besemah terletak di kaki Bukit Barisan. Daerahnya meluas dari lereng-lereng Gunung Dempo ke selatan sampai ke Ulu sungai Ogan ( Kisam ), ke barat sampai Ulu alas ( Besemah Ulu Alas ), ke utara sampai ke Ulu Musi Besemah ( Ayik Keghuh ),dan ke arah timur sampai Bukit Pancing, Pada masa Lampik Empat Merdike Due, daerah Besemah sudah dibagi atas Besemah Libagh, Besemah Ulu Lintang, Besemah Ulu Manak, dan Besemah Ayik Keghuh.
Ketinggian wilayah sangat bervariasi, dari ketinggian sekitar 441
meter dpl ( diatas permukaan laut ) sampai dengan 3.000-an meter lebih
dpl. Daerah dataran tinggi 441 meter samapi dengan 1.000 meter dpl,
sedangkan daerah berbukit dan bergunung ( bagian pegunungan ) berada
pada ketinggian di atas 1.000 meter hingga 3.000 meter lebih dpl. Titik
tertinggi adalah 3.173 meter dpl, yaitu puncak Gunung Dempo ( Bos,
1947:35 ), yang sekaligus merupakan gunung tertinggi di Sumatera
Selatan. Daerah Gunung Dempo dengan lereng-lerengnya pada sisi timur dan
tenggara mencakup 58,19 % dari luas wilayah Kota Pagar Alam sekarang
yang 633,66 hektar ( Bappeda, 2003 : 7-12 ).
Bukit dan gunung yang terpenting di wilayah Kota Pagar Alam, antara
lain adalah Gunung Dempo ( 3.173 m), Gunung Patah, ( 2.817 m ), Bukit
Raje Mendare, Bukit Candi, Bukit Ambung Beras, Bukit Tungku Tige (
Tungku Tiga ), dan Bukit Lentur. Bagian wilayah kota yang marupakan
dataran tinggi, terutama bagian timur, umumnya disebut “ Tengah Padang”.
Daerah pusat Kota Pagar Alam yang meliputi kecamatan Pagaralam Utara
dan Kecamatan Pagaralam Selatan atau wilayah bekas Marga Sumbay Besak
suku alundue terletak pada ketinggian rata-rata 600 samapai 3.173 meter
dpl.
Daerah Besemah dialiri sejumlah sungai. Satu diantaranya adalah
sungai Besemah ( Ayik Besemah ). Pada zaman dahulu, keadaan alamnya
sangat sulit dilewati, menyebabkan daerah ini jarang didatangi oleh
Sultan Palembang atau wakil-wakilnya ( raban dan jenang ). Kondisi alam
yang cukup berat ini menyebabkan sulitnya pasukan Belanda melakukan
ekspedisi-ekspedisi militer untuk memadamkan gerakan pelawanan orang
Besemah.
Mengenai keadaan alam Besemah pada permulaan abad ke-19, menurut pendatang Belanda dari karangan van Rees tahun 1870 melukiskan.
Sampai dengan tahun 1866 ada rakyat yang mendiami perbukitan yang sulit di datangi di sebalah tenggara Bukit Barisan yang tidak pernah menundukkan kepalanya kepada tetangga walaupun sukunya lebih besar. Walau hanya terdiri dari beberapa suku saja, mereka menanamkan dirinya rakyat bebas merdeka. Dari barat daya sulit ditembus oleh orang-orang Bengkulu, dari tiga sudut lain dipagari oleh gunung-gunung yang menjulang tinggi dan ditutupi oleh hutan rimba yang lebat dan luas di daerah pedalaman Palembang .
Sampai dengan tahun 1866 ada rakyat yang mendiami perbukitan yang sulit di datangi di sebalah tenggara Bukit Barisan yang tidak pernah menundukkan kepalanya kepada tetangga walaupun sukunya lebih besar. Walau hanya terdiri dari beberapa suku saja, mereka menanamkan dirinya rakyat bebas merdeka. Dari barat daya sulit ditembus oleh orang-orang Bengkulu, dari tiga sudut lain dipagari oleh gunung-gunung yang menjulang tinggi dan ditutupi oleh hutan rimba yang lebat dan luas di daerah pedalaman Palembang .
Menurut Ahad, juraytue puyang Kedung Gunung Samat di Rempasay bahwa
sebelum kedatangan Atung Bungsu ke daerah di sekitar Gunung Dempo, telah
datang bergelombang dan berturut-turut suku-suku atau bangsa-bangsa itu
adalah jeme Kam-kam, jeme Nik dan jeme Nuk, jeme Ducung, jeme Aking,dan
jeme Rebakau, jeme Sebakas ; jeme Rejang dan jeme Berige. Pada masa
tanah di sekitar Gunung Dempo diduduki oleh jeme Rejang dan jeme Berige,
datanglah Atung Bungsu.
Dari cerita orang tua (jeme- jeme tue ), secara fisik jeme Nik dan
jeme Nuk memiliki badan yang tinggi besar, hidung mancung, dan kulit
putih kemerahan. Jeme Ducung perawakan tubuknya kecil, pendek tetapi
memiliki kelincahan. Jeme Aking juga tinggi besar, kekar, kulitnya merah
keputihan, dan memiliki pendirian yang keras. Jeme Rebakau berperawakan
sedang, dan jeme Sebakas postur tubuhnya seperti orang-orang Melayu
sekarang. Demikian pula jeme Rejang dan jeme Berige tidak jauh beda
dengan jeme Sebakas. Ahad mengatakan bahwa orang Besemah sekarang
diperkirakan merupakan keturunan dari berbagai suku-suku diatas, namun
keturunan yang paling dominant berasal dari puyang Atung Bungsu.
Menurut cerita rakyat di Besemah, Atung Bungsu datang ke Besemah pada
saat tempat ini sudah di diami oleh suku Rejang dan Berige. Ia sampai
berdialog dengan salah seorang pimpinan suku Rejang yang bernama Ratu
Rambut Selaku dari Lubuk Umbay yang masing-masing merasa berhak atas
Tanah Besemah. Mulai sumpah, akhirnya Ratu Rambut Selake mengakui bahwa
yang lebih berhak adalah Atung Bungsu. Ucapan Atung Bungsu itu kira-kira
sebagai berikut, “Jikalau bulak, jikalau buhung, tanah ini aku punye,
binaselah anak cucungku”.
Sedangkan M.Zoem Derahap, yang dijuluki Pak Gasak, dusun Negeri Kaye,
Tanjung Sakti, bercerita bahwa rakyat Lubuk Umbay yang dipimpin Ratu
Rambut Selake setelah mengakui Tanah Besemah milik Atung Bungsu mereka
lalu diberi kedudukan sebagai Sumbay dalam Jagat Besemah, tetapi tidak
masuk dalam system pemerintahan Lampik Empat Merdike Due. Sumbay mereka
itu dinamakan Sumbay Lubuk Umbay.
Sebagai masyarakat Besemah percaya bahwa kedatangan Atung Bungsu itu
bersama Diwe Semidang (Puyang Serunting Sakti) dan Diwe Gumay. Diwe
Gumay menetap di Bukit Seguntang Palembang, sedangkan Diwe Semidang pada
mulanya juga tinggal di Bukit Seguntang, lalu pagi menjelajah sembilan
batanghari sampai akhirnya menetap di suatu tempat yang disebut Padang
Langgar (Pelangkeniday). Keturunan kesebelas dari Diwe Gumay, yaitu
Puyang Panjang sebagai Juray Kebalik-an baru menetap dibagian ilir Tanah
Besemah, yaitu di Balai Buntar ( Lubuksempang).
Selain cerita rakyat yang tetap hidup dan berkembang di Besemah,
mengenai asal- usul suku Besemah, seorang pengelana bangsa Inggris,
E.Presgrave, yang mengunjungi daerah Besemah, memberikan cerita dalam
The Journal Of The Indian Archipelago (Harian dari Kumpulan India)
sebagai berikut (Gramberg, 1867:351-352).
“….., sewaktu kerajaan Majapahit runtuh, seorang kakak laki-laki dan
seorang adik perempuan dengan banyak pengikut, telah meninggalkan
Majapahit dan mendarat di Pantai Timur Sumatera. Adik perempuannya
menempatkan dirinya di Palembang, dimana ia dalam waktu singkat telah
menjadi ratu yang terpandang ; kakaknya (Atung Bungsu), yang lebih jauh
masuk ke pedalaman, menetapkan diri di Lembah dari Passumah yang subur.
Dengan demikian tanah ini diduduki dan dihuni para pendatang ini.
Mitos atau cerita mengenai Puyang Atung Bungsu terdapat beberapa
versi yang diantara lain dapat kita baca dalam “Soerat Assal Oerang
Mendjadikan Djagat Passumah” dengan kode ML 608 (BR.157.VIII) dan kode
ML 234 yang ada di perpustakaan Museum Nasional, Jakarta. Sumber dengan
kode ML 234 ditulis oleh Muhammad Arif dari dusun Benuakeling tanggal 28
November 1898 yang disalinnya dari suatu kitab orang dusun Tanahpilih,
Marga Sumbay Ulu Lurah Benuakeling, yaitu Pangeran Samadil. Sumber data
ini, sebelumnya disalin kembali oleh Muhammad Tayib yang pernah magang
di kantor Kontrolir dari Bandar tanggal 25 Januari 1889. Jadi, sumber
ini sudah disalin beberapa kali. Sumber aslinya dalam bentuk huruf Arab
Gundul (Surat Melayu) yang kemudian ditulis dalam bentuk huruf latin.
Adalagi sumber yang ditulis oleh A. Grozali Mengkerin, juga dari
dusun Benuakeling yang berjudul “Benuakeling Puting Jagat Besemah”.
Selanjutnya ada lagi versi lain, misalnya yang ditulis oleh Musa dari
dusun Muara Siban, M.S. Panggarbesi, Abdullah (Bedul) dusun Gelungsakti,
dan beberapa tulisan lainnya. Cerita tentang Puyang Atung Bungsu ini
banyak dibumbui dengan cerita-cerita yang berbau mistik, irrasional dan
sulit diterima oleh akal sehat. Pada umumnya cerita tentang Atung Bungsu
ini terdapat persamaan, bahwa tokoh ini berasal dari Kerajaan Majapahit
dan dua orang anaknya, Bujang Jawe (Bergelar Puyang Diwate) dan Riye
Rekian. Atung Bungsu dan keturunannya dianggap genre yang menjadikan
“Jagat Besemah”. Konon, menurut cerita, kata “Besemah” berasal dari
cerita istri Atung Bungsu yang Bernama Putri Senantan Buwih (anak Ratu
Benuakeling) yang ketika sedang mencuci beras di sungai, bakul berasnya
dimasuki ikan semah (ML, 608:5).
Salah seorang keturunan Bujang Jawe (Puyang Diwate) bernama puyang Mandulake (Mandulike) yang berputra lima orang, yaitu (1) Puyang Sake Semenung atau Semanung (menjadikan anak keturunan Pagargunung), (2) Puyang Sake Sepadi, melalui anaknya Singe Bekkurung yang bertempat tinggal di dusun Benuakeling menjadikan Marga Tanjung Ghaye, Sumbay Ulu Lurah, Sumbay Besak, Sumbay Mangku Anum, dan Sumbay Penjalang, (3) Puyang Sake Seratus menjadikan anak keturunan Bayuran (Kisam), (4) Puyang Sake Seketi (mati bujang, tidak ada keturunan). Puyang Singe Bekurung mempunya anak Puyang Pedane. Puyang Pedane beranak Puyang Tanjung Lematang. Puyang ini kemudian beranak tiga orang, yaitu Puyang Riye Lisi, Riye Ugian, dan Riye Lasam. Puyang Riye Lisi pindah ke Kikim menjadikan anak Merge Penjalang di Besemah Libagh, dan Puyang Riye Lasam menjadikan keturunan Sumbay Ulu Lurah.
Salah seorang keturunan Bujang Jawe (Puyang Diwate) bernama puyang Mandulake (Mandulike) yang berputra lima orang, yaitu (1) Puyang Sake Semenung atau Semanung (menjadikan anak keturunan Pagargunung), (2) Puyang Sake Sepadi, melalui anaknya Singe Bekkurung yang bertempat tinggal di dusun Benuakeling menjadikan Marga Tanjung Ghaye, Sumbay Ulu Lurah, Sumbay Besak, Sumbay Mangku Anum, dan Sumbay Penjalang, (3) Puyang Sake Seratus menjadikan anak keturunan Bayuran (Kisam), (4) Puyang Sake Seketi (mati bujang, tidak ada keturunan). Puyang Singe Bekurung mempunya anak Puyang Pedane. Puyang Pedane beranak Puyang Tanjung Lematang. Puyang ini kemudian beranak tiga orang, yaitu Puyang Riye Lisi, Riye Ugian, dan Riye Lasam. Puyang Riye Lisi pindah ke Kikim menjadikan anak Merge Penjalang di Besemah Libagh, dan Puyang Riye Lasam menjadikan keturunan Sumbay Ulu Lurah.
Tentang asal-usul suku Besemah, versi lalin menceritakan bahwa ada
seorang “Wali Tua” dari salah satu anggota keluarga Kerajaan Majapahit
berangkat ke Palembang, kemudian kimpoi dengan Putri (anak) Raja
Iskandar yang menjadi Raja Palembang. Salah satu keturunan inilah yang
bernama Atung Bungsu yang pada suatu ketika berperahu menyelusuri sungai
Lematang dan akhirnya sampai di sungai yang belum diketahui namanya,
tempatnya menetap dinamakan Benuakeling . Di sungai itu, Atung Bungsu
melihat banyak ikan semah yang mengerumuni bekas-bekas makanan yang
dibuang ke sungai. Atung Bungsu menceritakan kepada istrinya bahwa di
sungai banyak ikan semah-nya. Konon katanya, nama ikan inilah yang
menjadi cikal-bakal asal-usul nama “Besemah” yang artinya “sungai yang
ada ikan seah-nya”. Sungai itulah yang sampai sekarang dikenal dengan
nama Ayik Besemah diantara dusung Karanganyar dengan dusun Tebatgunung
Baru sekarang. Jadi, ada beberapa versi cerita mengenai ikan semah
sebagai asal nama Besemah, di antaranya versi Atung Bungsu dan versi
Senantan Buih
No comments:
Post a Comment