Ketika kehidupan tidak kamu jalani dengan penuh kesungguhan, maka kamu akan menjalaninya dengan penuh kelemahan.

widgets

Wednesday, October 10, 2012

Tanah Besemah

Sejarah Tanah Besemah


Daerah Besemah terletak di kaki Bukit Barisan. Daerahnya meluas dari lereng-lereng Gunung Dempo ke selatan sampai ke Ulu sungai Ogan ( Kisam ), ke barat sampai Ulu alas ( Besemah Ulu Alas ), ke utara sampai ke Ulu Musi Besemah ( Ayik Keghuh ),dan ke arah timur sampai Bukit Pancing, Pada masa Lampik Empat Merdike Due, daerah Besemah sudah dibagi atas Besemah Libagh, Besemah Ulu Lintang, Besemah Ulu Manak, dan Besemah Ayik Keghuh.
Ketinggian wilayah sangat bervariasi, dari ketinggian sekitar 441 meter dpl ( diatas permukaan laut ) sampai dengan 3.000-an meter lebih dpl. Daerah dataran tinggi 441 meter samapi dengan 1.000 meter dpl, sedangkan daerah berbukit dan bergunung ( bagian pegunungan ) berada pada ketinggian di atas 1.000 meter hingga 3.000 meter lebih dpl. Titik tertinggi adalah 3.173 meter dpl, yaitu puncak Gunung Dempo ( Bos, 1947:35 ), yang sekaligus merupakan gunung tertinggi di Sumatera Selatan. Daerah Gunung Dempo dengan lereng-lerengnya pada sisi timur dan tenggara mencakup 58,19 % dari luas wilayah Kota Pagar Alam sekarang yang 633,66 hektar ( Bappeda, 2003 : 7-12 ).
Bukit dan gunung yang terpenting di wilayah Kota Pagar Alam, antara lain adalah Gunung Dempo ( 3.173 m), Gunung Patah, ( 2.817 m ), Bukit Raje Mendare, Bukit Candi, Bukit Ambung Beras, Bukit Tungku Tige ( Tungku Tiga ), dan Bukit Lentur. Bagian wilayah kota yang marupakan dataran tinggi, terutama bagian timur, umumnya disebut “ Tengah Padang”. Daerah pusat Kota Pagar Alam yang meliputi kecamatan Pagaralam Utara dan Kecamatan Pagaralam Selatan atau wilayah bekas Marga Sumbay Besak suku alundue terletak pada ketinggian rata-rata 600 samapai 3.173 meter dpl.
Daerah Besemah dialiri sejumlah sungai. Satu diantaranya adalah sungai Besemah ( Ayik Besemah ). Pada zaman dahulu, keadaan alamnya sangat sulit dilewati, menyebabkan daerah ini jarang didatangi oleh Sultan Palembang atau wakil-wakilnya ( raban dan jenang ). Kondisi alam yang cukup berat ini menyebabkan sulitnya pasukan Belanda melakukan ekspedisi-ekspedisi militer untuk memadamkan gerakan pelawanan orang Besemah.
Mengenai keadaan alam Besemah pada permulaan abad ke-19, menurut pendatang Belanda dari karangan van Rees tahun 1870 melukiskan.
Sampai dengan tahun 1866 ada rakyat yang mendiami perbukitan yang sulit di datangi di sebalah tenggara Bukit Barisan yang tidak pernah menundukkan kepalanya kepada tetangga walaupun sukunya lebih besar. Walau hanya terdiri dari beberapa suku saja, mereka menanamkan dirinya rakyat bebas merdeka. Dari barat daya sulit ditembus oleh orang-orang Bengkulu, dari tiga sudut lain dipagari oleh gunung-gunung yang menjulang tinggi dan ditutupi oleh hutan rimba yang lebat dan luas di daerah pedalaman Palembang .
Menurut Ahad, juraytue puyang Kedung Gunung Samat di Rempasay bahwa sebelum kedatangan Atung Bungsu ke daerah di sekitar Gunung Dempo, telah datang bergelombang dan berturut-turut suku-suku atau bangsa-bangsa itu adalah jeme Kam-kam, jeme Nik dan jeme Nuk, jeme Ducung, jeme Aking,dan jeme Rebakau, jeme Sebakas ; jeme Rejang dan jeme Berige. Pada masa tanah di sekitar Gunung Dempo diduduki oleh jeme Rejang dan jeme Berige, datanglah Atung Bungsu.
Dari cerita orang tua (jeme- jeme tue ), secara fisik jeme Nik dan jeme Nuk memiliki badan yang tinggi besar, hidung mancung, dan kulit putih kemerahan. Jeme Ducung perawakan tubuknya kecil, pendek tetapi memiliki kelincahan. Jeme Aking juga tinggi besar, kekar, kulitnya merah keputihan, dan memiliki pendirian yang keras. Jeme Rebakau berperawakan sedang, dan jeme Sebakas postur tubuhnya seperti orang-orang Melayu sekarang. Demikian pula jeme Rejang dan jeme Berige tidak jauh beda dengan jeme Sebakas. Ahad mengatakan bahwa orang Besemah sekarang diperkirakan merupakan keturunan dari berbagai suku-suku diatas, namun keturunan yang paling dominant berasal dari puyang Atung Bungsu.
Menurut cerita rakyat di Besemah, Atung Bungsu datang ke Besemah pada saat tempat ini sudah di diami oleh suku Rejang dan Berige. Ia sampai berdialog dengan salah seorang pimpinan suku Rejang yang bernama Ratu Rambut Selaku dari Lubuk Umbay yang masing-masing merasa berhak atas Tanah Besemah. Mulai sumpah, akhirnya Ratu Rambut Selake mengakui bahwa yang lebih berhak adalah Atung Bungsu. Ucapan Atung Bungsu itu kira-kira sebagai berikut, “Jikalau bulak, jikalau buhung, tanah ini aku punye, binaselah anak cucungku”.
Sedangkan M.Zoem Derahap, yang dijuluki Pak Gasak, dusun Negeri Kaye, Tanjung Sakti, bercerita bahwa rakyat Lubuk Umbay yang dipimpin Ratu Rambut Selake setelah mengakui Tanah Besemah milik Atung Bungsu mereka lalu diberi kedudukan sebagai Sumbay dalam Jagat Besemah, tetapi tidak masuk dalam system pemerintahan Lampik Empat Merdike Due. Sumbay mereka itu dinamakan Sumbay Lubuk Umbay.
Sebagai masyarakat Besemah percaya bahwa kedatangan Atung Bungsu itu bersama Diwe Semidang (Puyang Serunting Sakti) dan Diwe Gumay. Diwe Gumay menetap di Bukit Seguntang Palembang, sedangkan Diwe Semidang pada mulanya juga tinggal di Bukit Seguntang, lalu pagi menjelajah sembilan batanghari sampai akhirnya menetap di suatu tempat yang disebut Padang Langgar (Pelangkeniday). Keturunan kesebelas dari Diwe Gumay, yaitu Puyang Panjang sebagai Juray Kebalik-an baru menetap dibagian ilir Tanah Besemah, yaitu di Balai Buntar ( Lubuksempang).
Selain cerita rakyat yang tetap hidup dan berkembang di Besemah, mengenai asal- usul suku Besemah, seorang pengelana bangsa Inggris, E.Presgrave, yang mengunjungi daerah Besemah, memberikan cerita dalam The Journal Of The Indian Archipelago (Harian dari Kumpulan India) sebagai berikut (Gramberg, 1867:351-352).
“….., sewaktu kerajaan Majapahit runtuh, seorang kakak laki-laki dan seorang adik perempuan dengan banyak pengikut, telah meninggalkan Majapahit dan mendarat di Pantai Timur Sumatera. Adik perempuannya menempatkan dirinya di Palembang, dimana ia dalam waktu singkat telah menjadi ratu yang terpandang ; kakaknya (Atung Bungsu), yang lebih jauh masuk ke pedalaman, menetapkan diri di Lembah dari Passumah yang subur. Dengan demikian tanah ini diduduki dan dihuni para pendatang ini.
Mitos atau cerita mengenai Puyang Atung Bungsu terdapat beberapa versi yang diantara lain dapat kita baca dalam “Soerat Assal Oerang Mendjadikan Djagat Passumah” dengan kode ML 608 (BR.157.VIII) dan kode ML 234 yang ada di perpustakaan Museum Nasional, Jakarta. Sumber dengan kode ML 234 ditulis oleh Muhammad Arif dari dusun Benuakeling tanggal 28 November 1898 yang disalinnya dari suatu kitab orang dusun Tanahpilih, Marga Sumbay Ulu Lurah Benuakeling, yaitu Pangeran Samadil. Sumber data ini, sebelumnya disalin kembali oleh Muhammad Tayib yang pernah magang di kantor Kontrolir dari Bandar tanggal 25 Januari 1889. Jadi, sumber ini sudah disalin beberapa kali. Sumber aslinya dalam bentuk huruf Arab Gundul (Surat Melayu) yang kemudian ditulis dalam bentuk huruf latin.
Adalagi sumber yang ditulis oleh A. Grozali Mengkerin, juga dari dusun Benuakeling yang berjudul “Benuakeling Puting Jagat Besemah”. Selanjutnya ada lagi versi lain, misalnya yang ditulis oleh Musa dari dusun Muara Siban, M.S. Panggarbesi, Abdullah (Bedul) dusun Gelungsakti, dan beberapa tulisan lainnya. Cerita tentang Puyang Atung Bungsu ini banyak dibumbui dengan cerita-cerita yang berbau mistik, irrasional dan sulit diterima oleh akal sehat. Pada umumnya cerita tentang Atung Bungsu ini terdapat persamaan, bahwa tokoh ini berasal dari Kerajaan Majapahit dan dua orang anaknya, Bujang Jawe (Bergelar Puyang Diwate) dan Riye Rekian. Atung Bungsu dan keturunannya dianggap genre yang menjadikan “Jagat Besemah”. Konon, menurut cerita, kata “Besemah” berasal dari cerita istri Atung Bungsu yang Bernama Putri Senantan Buwih (anak Ratu Benuakeling) yang ketika sedang mencuci beras di sungai, bakul berasnya dimasuki ikan semah (ML, 608:5).
Salah seorang keturunan Bujang Jawe (Puyang Diwate) bernama puyang Mandulake (Mandulike) yang berputra lima orang, yaitu (1) Puyang Sake Semenung atau Semanung (menjadikan anak keturunan Pagargunung), (2) Puyang Sake Sepadi, melalui anaknya Singe Bekkurung yang bertempat tinggal di dusun Benuakeling menjadikan Marga Tanjung Ghaye, Sumbay Ulu Lurah, Sumbay Besak, Sumbay Mangku Anum, dan Sumbay Penjalang, (3) Puyang Sake Seratus menjadikan anak keturunan Bayuran (Kisam), (4) Puyang Sake Seketi (mati bujang, tidak ada keturunan). Puyang Singe Bekurung mempunya anak Puyang Pedane. Puyang Pedane beranak Puyang Tanjung Lematang. Puyang ini kemudian beranak tiga orang, yaitu Puyang Riye Lisi, Riye Ugian, dan Riye Lasam. Puyang Riye Lisi pindah ke Kikim menjadikan anak Merge Penjalang di Besemah Libagh, dan Puyang Riye Lasam menjadikan keturunan Sumbay Ulu Lurah.
Tentang asal-usul suku Besemah, versi lalin menceritakan bahwa ada seorang “Wali Tua” dari salah satu anggota keluarga Kerajaan Majapahit berangkat ke Palembang, kemudian kimpoi dengan Putri (anak) Raja Iskandar yang menjadi Raja Palembang. Salah satu keturunan inilah yang bernama Atung Bungsu yang pada suatu ketika berperahu menyelusuri sungai Lematang dan akhirnya sampai di sungai yang belum diketahui namanya, tempatnya menetap dinamakan Benuakeling . Di sungai itu, Atung Bungsu melihat banyak ikan semah yang mengerumuni bekas-bekas makanan yang dibuang ke sungai. Atung Bungsu menceritakan kepada istrinya bahwa di sungai banyak ikan semah-nya. Konon katanya, nama ikan inilah yang menjadi cikal-bakal asal-usul nama “Besemah” yang artinya “sungai yang ada ikan seah-nya”. Sungai itulah yang sampai sekarang dikenal dengan nama Ayik Besemah diantara dusung Karanganyar dengan dusun Tebatgunung Baru sekarang. Jadi, ada beberapa versi cerita mengenai ikan semah sebagai asal nama Besemah, di antaranya versi Atung Bungsu dan versi Senantan Buih

Curug Cilember

Wisata Curug Cilember


Curug Cilember ini berada di Desa Cilember, Kecamatan cisarua, Kabupaten bogor, Jawa Barat. Wana Wisata Curug Cilember ini merupakan salah satu tujuan wisata terkenal yang ada di kawasan puncak, di Curug Cilember ini anda bukan hanya akan disajikan oleh 1 air terjun saja, melainkan 7 air terjun.

Curug Cilember
Wana Wisata Curug 7 Cilember
Jl. Cisarua Puncak Km 10
Desa Cilember
Kecamatan Cisarua
Puncak, Jawa Barat
Telp: (0251) 258 890
sumber :
http://tricahyoramdhani.wordpress.com/2011/05/06/curugcilember/
dan sumber lain nya

Gunung Kerinci Jambi

Misteri Gunung Kerinci : Legenda ‘Uhang Pandak’

GriyaWisata.Com-Orang Pendek adalah misteri sejarah alam terbesar di Asia; ahli binatang telah mendaftarkan laporan penampakan kera misterius di wilayah Taman Nasional Kerinci Seblat, Propinsi Jambi, lebih dari 150 tahun lalu. Sampai hari ini, mahluk yang di Kerinci dikenal sebagai “uhang pandak”, tetapi juga karena variasi yang membingungkan dari nama dialek setempat, sampai sekarang masih belum teridentifikasi oleh ilmuwan.
Orang pendek ialah nama yang diberikan kepada seekor binatang (manusia?) yang sudah dilihat banyak orang selama ratusan tahun yang kerap muncul di sekitar Taman Nasional Kerinci Seblat, Jambi. Walaupun tak sedikit orang yang pernah melihatnya, keberadaan orang pendek hingga sekarang masih merupakan teka-teki. Tidak ada seorangpun yang tahu, sebenarnya makhluk jenis apakah yang sering disebut sebagai orang pendek itu.
Tidak pernah ada laporan yang mengabarkan bahwa seseorang pernah menangkap atau bahkan menemukan jasad makhluk ini, namun hal itu berbanding terbalik dengan banyaknya laporan dari beberapa orang yang mengatakan pernah melihat makhluk tersebut. Sekedar informasi, Orang pendek ini masuk kedalam salah satu studi Cryptozoology.
Ekspediasi pencarian Orang Pendek sudah beberapa kali di lakukan di Kawasan Kerinci, Salah satunya adalah ekspedisi yang didanai oleh National Geographic Society. National Geographic sangat tertarik mengenai legenda Orang Pendek di Kerinci, Jambi, beberapa peneliti telah mereka kirimkan kesana untuk melakukan penelitian mengenai makhluk tersebut.

Adapun cerita mengenai orang pendek pertama kali ditemukan dalam catatan penjelajah Marco Polo tahun 1292, saat ia bertualang ke Asia. Walau diyakini keberadaannya oleh penduduk setempat, makhluk ini dipandang hanya sebagai mitos oleh para ilmuwan, seperti halnya yeti di Himalaya dan monster Loch Ness Inggris Raya.
Sejauh ini, para saksi yang mengaku pernah melihat Orang Pendek menggambarkan tubuh fisiknya sebagai makhluk yang berjalan tegap (berjalan dengan dua kaki) tinggi sekitar satu meter (diantara 85 cm hingga 130 cm) dan memiliki banyak bulu diseluruh badan. Bahkan tak sedikit pula yang menggambarkannya dengan membawa berbagai macam peralatan berburu, seperti semacam tombak.
Legenda Mengenai Orang Pendek sudah secara turun temurun dikisahkan di dalam kebudayaan masyarakat Suku anak dalam. Mungkin bisa dibilang, Suku Anak Dalam sudah terlalu lama berbagi tempat dengan para Orang Pendek di kawasan tersebut. Walaupun demikian, jalinan sosial diantara mereka tidak pernah ada. Sejak dahulu Suku Anak Dalam bahkan tidak pernah menjalin kontak langsung dengan makhluk-makhluk ini, mereka memang sering terlihat, namun tak pernah sekalipun warga dari suku anak dalam dapat mendekatinya.
Ada suatu kisah mengenai keputusasaan para Suku Anak Dalam yang mencoba mencari tahu identitas dari makhluk-makhluk ini, mereka hendak menangkapnya namun selalu gagal. Pencarian lokasi dimana mereka membangun komunitas mereka di kawasan Taman Nasional juga pernah dilakukan, namun juga tidak pernah ditemukan.
Awal tahun 1900-an, dimana saat itu Indonesia masih merupakan jajahan Belanda, tak sedikit pula laporan datang dari para WNA. Namun yang paling terkenal adalah Kesaksian Mr. Van Heerwarden di tahun 1923. Mr. Van Heerwarden adalah seorang zoologiest, dan disekitar tahun itu ia sedang melakukan penelitian di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat.
Pada suatu catatan kisahnya, ia menuliskan mengenai pertemuannya dengan beberapa makhluk gelap dengan banyak bulu di badan. Tinggi tubuh mereka ia gambarkan setinggi anak kecil berusia 3-4 tahun, namun dengan bentuk wajah yang lebih tua dan dengan rambut hitam sebahu. Mr. Heerwarden sadar mereka bukan sejenis siamang maupun perimata lainnya. Ia tahu makhluk-makhluk itu menyadari keberadaan dirinya saat itu, sehingga mereka berlari menghindar. Satu hal yang membuat Mr. Heerwarden tak habis pikir, semua makhluk itu memiliki persenjataan berbentuk tombak dan mereka berjalan tegak. Semenjak itu, Mr. Heerwarden terus berusaha mencari tahu makhluk tersebut, namun usahanya selalu tidak berbuah hasil.
Sumber-sumber dari para saksi memang sangat dibutuhkan bagi para peneliti yang didanai oleh National Gographic Society untuk mencari tahu keberadaan Orang Pendek. Dua orang peneliti dari Inggris, Debbie Martyr dan Jeremy Holden sudah lama mengabadikan dirinya untuk terus menerus melakukan ekspedisi terhadap eksistensi Orang Pendek. Namun, sejak pertama kali mereka datang ke Taman Nasional Kerinci di tahun 1990, sejauh ini hasil yang didapat masih jauh dari kata memuaskan.
Lain dengan peneliti lainnya, Debbie dan Jeremy datang ke Indonesia dengan dibiayai oleh Organisasi Flora dan Fauna Internasional ( http://fauna-flora.org). Dalam ekspedisi yang dinamakan “Project Orang Pendek” ini, mereka terlibat penelitian panjang disana. Secara sistematik, usaha-usaha yang mereka lakukan dalam ekspedisi ini antara lain adalah pengumpulan informasi dari beberapa saksi mata untuk mengetahui lokasi-lokasi di mana mereka sering dikabarkan muncul. Kemudian ada metode menjebak pada suatu tempat dimana disana terdapat beberapa kamera yang selalu siap untuk menangkap aktivitas mereka. Rasa putus asa dan frustasi selalu menghinggap di diri mereka ketika hasil ekspedisi selama ini belum mendapat hasil yang memuaskan.

Beberapa pakar Cryptozoology mengatakan bahwa Orang Pendek mungkin memiliki hubungan yang hilang dengan manusia. Apakah mereka merupakan sisa-sisa dari genus Australopithecus?
Banyak Paleontologiest mengatakan bahwa jika anggota Australopithecus masih ada yang bertahan hidup hingga hari ini, maka mereka lebih suka digambarkan sebagai seekor siamang. Pertanyaan mengenai identitas Orang Pendek yang banyak dikaitkan dengan genus Australopitechus ini sedikit pudar dengan ditemukannya fosil dari beberapa spesies manusia kerdil di Flores beberapa waktu yang lalu.
Fosil manusia-manusia kerdil “Hobbit” berjalan tegak inilah yang kemudian disebut sebagai Homo Floresiensis. Ciri-ciri fisik spesies ini sangat mirip dengan penggambaran mengenai Orang Pendek, dimana mereka memiliki tinggi badan tidak lebih dari satu seperempat meter, berjalan tegak dengan dua kaki dan telah dapat mengembangkan perkakas/alat berburu sederhana serta telah mampu menciptakan api. Homo Floresiensis diperkirakan hidup diantara 35000 – 18000 tahun yang lalu.
Apakah Orang Pendek benar-benar merupakan sisa-sisa dari Homo Floresiensis yang masih dapat bertahan hidup? Secara jujur, para peneliti belum dapat menjawabnya. Peneliti mengetahui bahwa setiap saksi mata yang berhasil mereka temui mengatakan lebih mempercayai Orang Pendek sebagai seekor binatang. Debbie Martyr dan Jeremy Holden, juga mempertahankan pendapat mereka bahwa Orang Pendek adalah seekor siamang luar biasa dan bukan hominid. [ndis/tn]
sumber :
http://griyawisata.com/

BukitTinggi

Road to Bukitinggi

Mumpung lagi ada waktu luang, saya mo' posting tentang perjalanan minggu lalu ke Bukittinggi. Tadinya perjalanan itu nyaris batal, mengingat hari Senin (16 Mei 2011) mendadak Pemerintah bikin pengumuman dadakan libur nasional! walah...mana Surat Tugas belum di sign Boss besar, kami ga bisa jalan tanpa surat tugas itu! Padahal start perjalanan kami Rabu tgl 18 Mei! Bayangkan: belum beli tiket, belum booking hotel..pokoknya benar2 ga siap! Dilalah, pas Rabu pagi, boss besar tanda tangani surat tugas itu, serta merta tiga rekanku yang memang 'selalu' nekad- langsung pesen tiket, terus kontak rekan kami yang udah duluan jalan kesana untuk sediakan hotel, travel dll. Setelah kasak-kusuk sana-sini, akhirnya ketiga rekanku dapat pesawat Lion jam 15.00 hari itu juga! Saya? kubilang: engga jadi deh..aku ga siap! kalo ikut kalian sore ini, saya harus pulang dulu ke Bogor, nge-pack trus pamit ama anak2 dsb. Sementara kemarin saya udah bilang ke suami dan ibuku bahwa saya engga jadi ke Bukittinggi. Tidak terima atas putusanku yang batal ikut, rekan2ku pake cara 'paksa' supaya saya ikut, kata mereka: 'harus ikut! kan di surat tugas Mbak selaku pemimpin rombongan?' (ngarang banget!! padahal ga ada tuh kalimat itu!! :D ).

Akhirnya 'dengan terpaksa' Kamis pagi saya sendirian berangkat menuju Bandara Minangkabau menyusul rekan2. Naik pesawat jam 06.25 sampai Padang sekitar jam 08.15. Mengingat saya sendirian, maka sampai bandara saya celingukan mencari dua rekan saya yang janji mau jemput di bandara. Tapi pas di telpon, katanya mereka masih di sekitar Lubuk Alung (dimana pula itu? pasti jauh!). Ya sudah..saya bolak-balik cari tempat duduk yang nyaman di bandara (di bandara ini kurang tempat duduk buat penunggu/pengantar di luar. Walhasil, saya cuma berdiri dan mondar mandir sampe pegal! mana disana-sini banyak asap rokok, sungguh ga nyaman!)

Lembah Anai Waterfall

Saat saya menuju Bukittinggi, saya melewati kawasan alam yang ruarr biasa indah! Baru kali ini saya bertemu air terjun pinggir jalan. Mendadak saat melewati air terjun itu dan muka ini terkena percikan air (saya sengaja buka jendela mobil untuk menikmati sensasi ini!) saya merasa sebagai si Sally - mobil Porsche berjenis kelamin wanita :P di film the Cars. Jika pernah nonton The Cars -film animasi produk Disney-Pixar, maka pasti ingat adegan saat Sally berkedip centil ke arah McQueen ketika melewati waterfall di sekitar Radiator Springs. Sementara itu, di Lembah Anai saya berkedip ke arah tukang gorengan yang nongkrong samping waterfall ...




Jam Gadang - Ngarai Sianok

Yang menarik dari Bukittinggi adalah lokasi wisata satu ke yang lainnya dekat dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki (terutama buat yang suka olahraga!). Bila selama ini cuma dengar dan lihat di TV, akhirnya sekarang bisa menatap langsung maskot kota ini. Dan benar..ternyata angka empat romawi di Jam Gadang tidak ditulis "IV" tetapi "IIII" .

Nah, depan Jam Gadang ada Istana Bung Hatta. Namun sayang, sepertinya istana itu dijadikan sewaan untuk ruang pesta, soalnya saat kami kesitu ada beberapa orang sedang beres-beres meja prasmanan :( walhasil, nuansa sakral khas istana jadi tak terasa.

Tak jauh dari Jam Gadang agak ke...kemana ya? lupa! Terhampar Ngarai Sianok dan Goa Jepang. Saya dan rekan2 bagai orang kampung masuk kota: ribut terkagum2 dan sibuk foto2. Sebenarnya kami pengen banget masuk ke Goa Jepang yang panjang tiap lorongnya katanya sekitar 1,5 Km, cuma rasa ngeri akan terjadinya gempa bikin ciut nyali. Kami memilih cukup difoto depan pintu masuknya saja. O'iya, lorong-lorong goa ini melintas di bawah jalan, gedung atau bangunan di kota Bukittinggi loh! terus nembusnya sampai ke dinding-dinding Ngarai Sianok. Pintu keluar goa Jepang sendiri ada banyak, pas kami melewati dasar lembah kami bertemu dengan beberapa lobang goa. Kebayang kan panjang banget?

Benteng Fort De Kock

Benteng peninggalan Belanda ini letaknya ga jauh dari Ngarai Sianok dan Jam Gadang tadi. Pokoknya keliling sana-sini di pusat kota Bukittinggi mentok-mentoknya ketemu tempat-tempat yang tadi diatas! Bentengnya sih cuma bangunan sekotak. Di kaki-kaki benteng ada beberapa meriam si jagur. Kami naik ke puncak benteng dengan menyusuri tangga besi dengan super hati-hati. Maklum, licin abis hujan dan keamanan tak terjamin! Sampai di atap benteng... kami bisa mengagumi panorama kota Bukittinggi, tapi sayangnya di sekitar benteng banyak sampah! hugh..sifat buruk wisatawan Indonesia!


Masih sekitar benteng, ada jembatan 'Limpapeh' yang menghubungkan Benteng dengan kebun binatang. Jembatan ini membentang di atas jalan raya. Nice view!


Rumah Kelahiran Bung Hatta

Kalo tadi kami sedikit 'kecewa' dengan istana Bung Hatta, maka saat di Rumah Kelahiran Bung Hatta kami terkagum-kagum. Seorang Ibu yang hari itu bertugas jaga dan menyambut pengunjung nampak senang dengan antusiasme kami! Dia sampai kaget waktu kutanya: apakah kami bisa menginap di rumah ini, Bu? hihi..abis rumahnya asri dan adem!


Danau Maninjau

Sekitar satu jam lebih perjalanan ke danau Maninjau. Untuk menuju danau ini kami melewati dasar Ngarai Sianok! Kalau tadi kami cuma bisa memandangi Ngarai dari jauh, maka saat itu kami bisa langsung menyentuh sang Ngarai. Kata si Bapak supir Travel, waktu gempa kemarin beberapa dinding Ngarai sempat longsor..maklum, dinding Ngarai itu bukan tebing, melainkan pasir. Huff...kalo gitu, buruan deh Pak, jangan lama2 di dasar Ngarai!

Sampai di danau Maninjau disambut hujan gerimis dan kabut tipis. Kami memutuskan tidak ke tepi danau mengingat untuk sampai ke tepian danau kami harus melewati kelok 44, yang menurut pak supir setiap kelokan cukup bikin pusing. oh tidakk....jangan sampai salah satu dari kami yang ga biasa pontang-panting mengeluarkan isi perutnya di mobil!

Menatap dari jauh suasana danau yang tenang dan teduh itu melemparkan ingatan saya pada film Lord of the Ring I...nun jauh disana, di pinggiran danau yang berupa tebing-tebing, hampir menyerupai landscape adegan saat dimana rombongan yang dipimpin Aragorn menaiki perahu menyusuri sungai dan melewati patung-patung leluhur mereka: Argonath. Ngayal banget...

awan gelap memayungi danau

Pantai Air Manis dan Malin Kundang

Hari Jumat pagi, sebelum kembali ke Jakarta kami menyempatkan diri ke Pantai Air Manis di Padang. Rekan kami ngotot ingin ke pantai itu karena ingin bertemu Malin Kundang eh...patung Malin Kundang! Untunglah perjalanan ke pantai itu cuma sekitar 1/2 jam-an. Dan kami cuma menghabiskan waktu kurang dari 1 jam disana. Ya, sekedar foto-foto dengan pantainya dan batu Malin -nya. O'ya mengenai batu ini, kami ga gitu yakin kalo itu batu hasil kutukan ibunda Malin Kundang. Karena setelah diamati seksama, baik batu Malin yang posisinya sedang menyembah, maupun perahunya- nampak bukan 'batu' asli layaknya batu kali atau batu candi! Batu Malin dan perahunya sepertinya terbuat dari batu bata dan semen. Pikir kami: jangan-jangan Ibunda Malin memang mengutuk dengan kalimat: Kukutuk Kau dan perahumu menjadi batu bata campur semen! (semennya, semen Padang pula! :D )

Malin Kundang sedang nyembah sang bunda

Sebagian dari Perahu Malin

Tak jauh dari Pantai tempat kami berdiri, nun disana ada dua pulau, salah satunya Pulau Pisang. Kata Pak Supir, pulau ini bisa dicapai dengan berjalan kaki (??) kalo laut tak pasang, kita bisa menyebrang ke pulau itu dan melewati air yang hanya setinggi lutut..atau paling banter sekepala!

Pulau ini cuma selemparan batu dari pantai
(tapi lemparnya yang kenceng dan jauh loh ya :O )
Puas bermain di pantai Malin Kundang, kami segera menuju bandara Minangkabau sekalian cari masjid bandara buat sholat Jumat. Akhirnya, sekitar jam 14.00 kami kembali ke Jakarta. O'iya, laporan dinasnya mana?? ga perlulah diceritakan disini! yang jelas, kami jalan-jalan setelah menunaikan kewajiban kantor dengan baik dan benar, lagipula jalan-jalannya pake biaya sendiri loh, bukan nebeng uang kantor..

Candi Muaro Jambi

Candi Muaro Jambi Mulai Menarik Simpatik Pengunjung

Bhiksu : Para Bhiksu dari Cina saat mengunjungi Candi Muarojambi baru-baru ini. Candi Muarojambi juga disebut sebagai Pusat ajara Budha di Sumatera.

Rental Sepeda : Penyewaan sepeda Ontel di kasawan Candi Muarojambi sebagai penunjang obyek wisata sejarah terpadu tersebut

Sejak Komplek Percandian Muarojambi dijadikan sebagai sebagai kawasan wisata sejarah terpadu (KWST) oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di kompleks Candi Muarojambi, September 2011 lalu, Candi Muarojambi kini mulai banyak dikunjungi wisatawan lokal dan manca negara.

Kemudian Budayawan dan seniman Indonesia meminta Pemerintah agar tidak mengganaikan peninggalan sejarah hanya untuk meraup keuntungan. Salah satu peninggalan sejarah yang terancam tergadaikan kepada pengusaha batu bara adalah Komplek Percandian Muarojambi. Padahal Komplek Candi Muarojambi telah dicanangkan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Kawasan Wisata Sejarah Terpadu (KWST) September 2011 lalu.

Jumlah wisatawan pengunjung Candi Muarojambi di Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi, kini mencapai 6.000 perbulan. Pemandu kawasan wisata Candi Muarojambi, Muhammad Havis alias Ahok (35) di Jambi, Minggu (22/4) mengatakan, meski masih didominasi wisatawan lokal, jumlah pengunjung di situs percandian terluas di Asia Tenggara itu terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

“Mungkin ini disebabkan maraknya pemberitaan tentang Candi Muarojambi ini sehingga wilayah ini makin dikenal publik dan banyak yang ingin mengunjunginya,”katanya.

Dikatakan, hingga April 2012, jumlah kunjungan wisatawan rata-rata lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya yang hanya tercatat antara 3-4 ribu perbulan.

Meningkatnya jumlah kunjungan wisata ke Candi Muarojambi sangat berdampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat setempat, khususnya bagi warga yang banyak membuka usaha di dalam kawasan candi tersebut.

Salah satunya adalah usaha sewa sepeda ontel. Di dalam kawasan itu terdapat sekurangnya 10 orang warga yang menyewakan jasa sepeda ontel bagi pengunjung yang ingin mengelilingi kawasan situs percandian seluas kurang lebih 17 kilometer persegi itu.

“Tarif sewa sepeda ontel itu Rp10.000 perjam, sedang jumlah sepeda mencapai ratusan unit. Pendapatan rata rata perbulan bidang usaha ini bisa mencapai Rp3 juta,”katanya.

Kemudian banyaknya pengunjung juga dimanfaatkan warga untuk berjualan makanan maupun sewa penginapan. Kondisi itu juga dirasakan para anggota pemandu wisata Candi Muarojambi atau Dwarapala Muda Muarojambi, yang banyak menawarkan jasa pemandu wisata.
Ahok berharap pemerintah Provinsi Jambi maupun Kabupaten Muarojambi lebih memperhatikan upaya pelestarian Candi Muarojambi. Salah satunya adalah dengan menerbitkan peraturan khusus terkait penetapan kawasan Candi Muarojambi.

“Kondisi Candi Muarojambi saat ini terus menuai polemik karena banyaknya perusahaan yang diklaim berdiri di kawasan situs. Sayangnya, pemerintah sepertinya enggan melakukan penertiban. Hal ini karena memang belum ada penetapan khusus dari pemerintah status kawasan Candi Muarojambi ini,”katanya.

Perjuangan untuk melestarikan kawasan Candi Muarajambi, datang dari berbagai pihak, baik kalangan budayawan, seniman dan tokoh masyarakat baik dari Jambi maupun dari pelosok nusantara, dengan menamakan Petisi Muarajambi.

Lebih dari 4.000 orang yang peduli akan candi ini telah membubuhkan tandatangan, dan petisi itu sudah diserahkan kepada Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan bahkan langsung ke Presiden RI Bambang Susilo Yudhoyono, baru-baru ini.

Di kawasan hutan belukar sekitar 40 kilometer dari Kota Jambi terdapat sederet situs kepurbakalaan dengan areal sangat luas, yakni mencapai 12 kilometer persegi atau terluas diseluruh situs purbakala yang ada di negeri ini.

Berbagai Candi Di areal inilah dijumpai sedikitnya 82 candi berbagai ukuran. Semua candi kini terawat dengan rapi dibawa pengawasan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala yang beralamat di Kota Jambi.

Situs ini membentang dari barat ke timur 7,5 kilometer dari tepian Sungai batanghari, hanya dapat ditempu dalam waktu 30 menit dari Kota Jambi.

Dulunya tempat ini belum banyak dikenal orang kecuali penduduk setempat. Baru tahun 1820 secara terbatas situs ini mulai terungkap setelah kedatangan S.C Crooke, seorang perwira Inggris, ketika dalam tugasnya mengunjungi daerah pedalaman Batanghari.

Kemudian dilanjutkan seorang sarjana Belanda, bernama F.M Schnitger dalam ekspedisi kepurbakalaan di Wilayah Sumatera tahun 1935 -1936. Sejak itu pula situs ini mulai terkenal.

Berawal dari itulah, maka sejak tahun 1976 hingga kini situs ini mulai secara serius dilakukan penelitian dan preservasi arkeologi.

Di dalam situs tidak hanya terdapat beberapa buah Candi, tetapi juga mennyimpan berbagai artefak kuno,seperti arca, keramik, manik-manik, mata uang kuno serta berbagai jenis peninggalan lainnya.

Terdapat delapan kompleks percandian , kolam kuno bagi penduduk setempat disebut kolam tanggorajo serta diperkirakan lebih dari 60 buah menapo atau gundukan tanah reruntuhan sisa bangunan kuno.

Dijumpai juga sedikitnya enam kanal atau parit-parit kuno buatan manusia masa lalu, diberinama Parit Sekapung, Johor dan Melayu.

Dalam kawasan candi ini diduga masih banyak candi atau benda lainnya yang belum terkelola, akibat keterbatasan tenaga dan kondisi geografis kawasan itu sebagian hutan belukar, sehingga sulit untuk dikerjakan.

Stokfile Batubara di Lokasi Candi

Namun keresahan dirasakan 47 pecinta budaya di Indonesia dengan keberadaan industri yang mengancam keberlangsungan situs kuno, peninggalan sejarah, Candi Muarojambi. Ini tergambar dalam surat permintaan yang ditandatangani 47 pecinta budaya atau petisi kepada Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Gubernur Jambi Hasan Basri Agus (HBA) dan Bupati Muarojambi Burhanuddin Mahir.

Ke 47 budayawan itu yang menandatangani surat diantaranya, Prof. Dr. Mundardjito (arkeolog), Goenawan Mohamad (budayawan), Edy Putra Irawady (Badan Musyawarah Keluarga Jambi), Trie Utami (artis), Ayu Utami (novelis), Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Nirwan Dewanto (budayawan).

Kemudian Bambang Budi Utomo (arkeolog), Lin Che Wei (analis), Aswan Zahari (Ketua umum Dewan Kesenian Jambi), Naswan Iskandar (Ketua harian Dewan Kesenian Jambi), MH Abid (Direktur Swarnadvipa Institute, Jambi), Ratna Dewi (SELOKO, jurnal budaya Jambi), H Sulaiman Hasan (lembaga adat Melayu Jambi), Dr. Maizar Karim (Pusat Studi Adat dan Melayu Jambi) dan sejumlah pecinta budaya lainnya.

Direktur Swarna Dwipa (Komunitas Budaya di Jambi), M Husnul Abid mengatakan, sejumlah pecinta budaya ini menyatakan sikap dan meminta kawasan percandian Muarojambi dikukuhkan sebagai Kawasan Cagar Budaya Nasional yang dilindungi Undang-Undang Cagar Budaya Nomor 11 Tahun 2010.

Kemudian, menetapkan kawasan budaya ini sama sebagai Kawasan Stratejik Nasional berdasarkan Undang-Undang Nomor 26 tahun 2007 Tentang Penataan Ruang. Selanjutnya, menerbitkan payung hukum bagi pelestarian kawasan percandian Muarojambi sebagai kawasan wisata sejarah terpadu, seperti yang telah dicanangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat berkunjung ke Candi Muarojambi, 22 September 2011 lalu. RUK

Sumatera

Singkarak Lake
 Singkarak Lake tourist attraction located in the province of West Sumatra exactly 85 kilometers from the city of Padang. This lake is the second largest lake after Lake Toba in Sumatra, with an area of ​​107.8 square kilometers. Lake with a maximum length of 20 kilometers and a width of 6.5 kilometers with a depth of 268 meters presents incredible natural scenery. Most of the water in the lake is used for hydroelectric power generation in Singkarak which flowed through tunnels cut through Bukit Barisan and Batang Anai.
Geographically, the lake Singkarak is located in the district of Tanah Datar and Solok district. The lake is located at an altitude of 363.5 meters above sea level and is surrounded by several mountains including Singgalang mountains, mountains and mountains Marapi Inaugurates that the view presented is feast for the eyes. In addition to beautiful Singkarak Lake can be used as a means of exercise such as jogging, brisk walking, cycling, swimming, rowing, fishing and others.
like a lake - a lake in Indonesia, in this lake also provided boats - boats that can be rented for tourists who want to enjoy the beauty of this lake up close. Even at times when a boat race competition held local and national level to increase the attractiveness of this lake Singkarak.
Ikan Bilih


In this lake live several species of fish. Recorded only 19 species of fish that live in this lake, proving that the availability of food and nutrition for the fish is very limited. There is one species that is native lake fish Bilih (Mystacoleusus padangensis) that can only live in this lake, and can not be cultivated despite using floating cages in the lake itself. My friend can enjoy the delights of fish Bilih with purchase at various kiosks around the lake that sells fish.
Kereta Wisata
to go to the lake Singkarak there are a number of ways. When a buddy of Padang city could rise by car or public transport distance Solok town 85 km or by city Padang Panjang with distance of 90 miles, at a cost of about Rp 25,000 - Rp 40,000. If my friend wants meyewa car charge Rp 400,000 per day. A bit of advice should mate round the lake Singkarak with a different route because the scenery is both beautiful route through the hills and winding - winding. There are also available Leopold tourist train line - SMF - Sawahlunto that cross the lake Singkarak.
Indeed, Indonesia is a rich country and it is our obligation to continue to keep my friend so that our grandchildren can enjoy the great work of the Almighty.

Tuesday, October 9, 2012

Road to berhala island

Holiday on a remote island might go ga itungan to dijadiin packages by travel agents. Precisely therein lies the asiknya! Me and some friends are planning for a vacation. From some of the places that made the candidate, we agreed to pick Berhala, an outer island before North Sumatra border with Malaysia. Our island is so interesting because its white sand, and clear blue beaches, diverse fish, lighthouse, and of course, if you're lucky we can see the turtles lay their eggs.





Based on the available time off, it appears that from 24 - 26 October 2011 can be used for a vacation. So began the search Berhala info on this over the last few months earlier. Search does not yield meaningful information, even add to the confusion. Maze of information makes us forget for a moment Berhala and started looking for a replacement.

From the information obtained, a trip to the island of idols can be reached using the barge owned by fishermen. These costs vary, perhaps depending on the location. From the information that has been collected, rent boats from Pantai Labu about 1.4 million, from approximately 3 jt Mirror Beach and Tanjung Beringin of approximately 1.5 million. We decided to go through Tanjung Beringin because one of my friends (apparently) have a relative who could nganterin Berhala Island. What a lucky!



 
For my friends who are adventurous, Berhala deserves to be explored. Please try the thrill Berhala. Guaranteed loss ga deh! Until here aja ya story, Myspace stands Pulak bored ..